Pembentukan Sistem Sosial di Makkah

Huda Nuri

Makkah adalah kota suci bagi umat Muslim dan menjadi tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di sini, terbentuk sistem sosial yang sangat penting bagi masyarakat Arab pada masa itu. Pada era pranabi, Makkah menjadi pusat perdagangan yang ramai dan memiliki berbagai suku bangsa yang berbeda. Oleh sebab itu, pembentukan sistem sosial di sini sangat penting untuk mengatur dan memelihara kerukunan antar suku bangsa.

Suku-Suku Bangsa di Makkah

Pada masa sebelum Islam, suku-suku bangsa di Makkah hidup dengan relative damai. Meskipun terjadi beberapa konflik, namun mereka tetap mampu menjaga kerukunan dan kestabilan sosial. Beberapa suku yang tinggal di Makkah adalah Banu Hashim, Banu Umayyah, Banu Makhzum, Banu Abd Shams, dan lain-lain.

Setiap suku memiliki kebiasaan, adat istiadat, dan sistem kepercayaan yang berbeda-beda. Di antara suku-suku yang ada di Makkah, suku Quraisy lah yang paling dominan. Mengingat bahwa Nabi Muhammad SAW berasal dari suku Quraisy, maka sangat penting untuk memahami bagaimana sistem sosial di Makkah pada masa itu.

Sistem Sosial di Makkah

Di Makkah, sistem sosial didasarkan pada garis keturunan dan status sosial. Suku Quraisy yang memegang kendali di kota tersebut, membagi diri mereka menjadi beberapa golongan. Golongan yang paling terhormat adalah Bani Hashim, sementara golongan yang paling rendah adalah Budak.

Pada masa itu, budak dianggap sebagai milik suku dan memiliki status sosial yang rendah. Mereka diperlakukan tidak adil dan tidak mendapatkan hak yang sama seperti orang lain. Namun, Nabi Muhammad SAW mulai mengubah pandangan sosial tersebut dan memperjuangkan hak-hak budak. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pada persamaan hak dan martabat manusia.

BACA JUGA:   Niat Puasa Arafah dalam Bahasa Arab

Perubahan Sistem Sosial Setelah Datangnya Islam

Setelah datangnya Islam, sistem sosial di Makkah mengalami perubahan yang signifikan. Kependudukan dan garis keturunan yang menjadi dasar pembagian sosial, digantikan oleh ajaran Islam yang menitikberatkan pada keimanan dan amal sholeh. Melalui ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW berhasil menggabungkan suku-suku yang berbeda dan membentuk masyarakat yang lebih solidaritas dan adil.

Hal ini ditunjukkan dengan peristiwa hijrah ke Madinah, di mana kaum Muhajirin dan Anshar yang sebelumnya berasal dari berbagai suku bangsa, berhasil hidup dalam kedamaian yang harmonis. Ajaran Islam mampu mengatasi perbedaan dan membangun persatuan dalam masyarakat.

Kesimpulan

Pembentukan sistem sosial di Makkah sangat penting sebagai awal peradaban Islam. Dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera, Islam menekankan pada kesetaraan dan tidak membedakan antara suku atau garis keturunan. Seiring perkembangan Islam, sistem sosial yang ada di Makkah berhasil diubah menjadi lebih adil dan solidaritas. Dalam Islam, hanya keimanan dan amal sholeh yang menjadi acuan dalam membagi masyarakat.

Also Read

Bagikan: